Skip to main content

Featured

Childhood

Penentuan Nama

Dulu ia sempat berpikir bahwa apalah arti sebuah nama, tapi sekarang ia paham dan sangat setuju jika nama itu adalah doa. Ia sempat kurang suka dengan namanya. Ia berpikir bahwa namanya terlalu sederhana, kurang keren. Terlebih, nama depannya pasaran sekali. Ia pernah mendengar, dulu kakak-kakaknya mengusulkan nama-nama lain pada abah. Namun, tidak digubris.

Saat itu, ia merasa bahwa nama-nama usulan kakaknya terdengar lebih keren. Lebih modern. 
Tapi sekarang, setelah ditelaah kembali, ia lebih jauh lebih suka dengan nama pilihan abah. 
Nama depan yang disematkan abah memiliki arti bersih dan suci. Saat memberi nama, mungkin abah berharap bahwa bayi ini, bayi perempuan yang lahir dengan panjang dan bobot lebih besar dari bayi pada umumnya, dapat tumbuh menjadi wanita yang jujur, tulus, dan bisa memilih mana yang baik dan benar. Seketika, tersenyum lah wanita berumur 27 tahun itu, mengingat saat dimana suaminya mengatakan bahwa karakternya memang mencerminkan nama yang dimiliki. Ia berharap kata-kata itu dapat selalu menjadi pengingat untuk terus berusaha menjaga kehormatan nama yang dititipkan padanya. 

Abah selalu bercanda dengan nama belakang putri bungsunya, katanya nama itu terinspirasi dari melihat kardus dengan tulisan: audio visual. Rasanya geli sekaligus sedih saat mendengarnya. Tapi tenang, abah telah memberikan klarifikasi terkait hal ini. Nama belakangnya diambil dari kata aidul-adha karena ia lahir berdekatan dengan lebaran haji. 
Bagi wanita itu, lebaran haji identik dengan kurban yang juga identik dengan kedermawanan. Ia harap, ia selalu diingatkan Allah untuk selalu bersikap dermawan bagaimanapun kondisinya. Karena kedermawanan akan menuntun seseorang pada kebahagiaan.

Sebuah penelitian terbaru dari University of Zurich (UZH) di Swiss menemukan hubungan antara kebahagiaan dan kedermawanan:

Kinerja tindakan tanpa pamrih, menurut peneliti, telah mengaktifkan area otak yang terkait dengan kepuasan dan siklus penghargaan. 
Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications itu dilakukan dengan menganalisis tingkat kebahagiaan dari 48 peserta. 
Mereka dianalisis dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (MRI).

Sebelumnya, mereka dibagi ke dalam dua kelompok acak dan diberi sejumlah uang setiap minggu selama empat minggu untuk dipantau kegiatannya. 
Hasilnya kelompok yang melakukan lebih banyak kegiatan bermanfaat bagi orang lain tidak peduli sekecil apa pun, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri ternyata memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok yang tidak. 

"Anda tidak perlu menjadi martir yang mengorbankan diri untuk merasa lebih bahagia. Cukup bermurah hati sedikit kepada orang lain," ujar Prof Phillipe Tobler dari UZH. (Medicalnewstoday/Ihs/X-7)





























  



 





Comments