Search This Blog
"That dream was planted in your heart for a reason. For as long as there is a dream, there is a hope. And as long as there is a hope, there is a joy in living"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Tempat Kelahiran
Ia lahir disebuah kampung yang dulu asri, rimbun, dan damai. Dulu dirinya tidak sadar, jika dibandingkan dengan tempat-tempat yang pernah ia tinggali, kampung kelahirannya termasuk kawasan yang minim fasilitas ternyata. Tidak ada klinik atau apotek, pasar, cafe, salon dan sebagian besar fasilitas-fasilitas umum lainnya. Hanya ada kebun, sawah, warung sembako, masjid dan rumah penduduk.
Ia, sang putri bungsu, adalah anak satu-satunya yang dilahirkan di bidan walaupun tanpa pemeriksaan USG. Semua kakaknya dilahirkan dirumah, dibantu oleh dukun beranak sehingga saat itu, di dalam keluarga, hanya ia yang memiliki akta kelahiran. Meski begitu, seluruh putri dikeluarga tersebut lahir normal dengan kondisi yang sehat tanpa cacat.
Saat ia lahir, mayoritas warga dikampung tersebut adalah petani. Konon, didekat rumahnya berdiri sebuah perkebunan karet yang cukup besar disertai dengan pabrik pengolahan karet. Namun, disaat ia mulai tumbuh dan mulai mampu mengingat dengan baik, perkebunan tersebut sudah berhenti beroperasi, menyisakan sebuah bangunan tua tak terurus dan terlihat angker. Membuatnya enggan melirik saat harus melewati bangunan tersebut untuk pergi ke kebun kakek.
Masih diingatnya pula kontur disekitar rumah yang dulunya berbukit-bukit. Terlihat hijau karena dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman yang sering berganti menyesuaikan musim. Kadang jagung, kadang singkong, kadang kacang tanah, kadang tanaman-tanaman lainnya. Ah indahnya.
Dulu rasanya udara dikampungnya segar sekali, tidak seperti sekarang. Pembangunan pabrik membuat udara disekitarnya menjadi lebih berdebu. Setiap pulang kampung, wanita yang mengidap alergi debu saat menjelang dewasa itu akan mengalami bersin-bersin dipagi hari. Bahkan hal itu terus berlangsung sampai beberapa hari setelah ia meninggalkan kampung halamannya.
Bisa dibilang kampungnya memang dibekali dengan banyak potensi. Mulai dari tanah yang cukup subur, air tanah yang belum pernah mengering disaat musim kemarau, lahan yang mengandung pasir, serta gunung yang tersusun atas batu kapur. Dan apa yang dapat diperbuat oleh makhluk berakal memang menakjubkan. Mereka mampu menghilangkan bukit-bukit berpasir dan bahkan memotong gunung sampai hanya tersisa separuh.
Perubahan lain yang terasa adalah sungai yang dangkal dan cepat kering serta luas sawah yang semakin berkurang. Hal yang paling diingatnya tentang sungai dan sawah itu adalah ekspresi melotot abah dari balik jendela masjid ditepi sungai saat menangkap basah putri bungsunya yang tengah asyik bermain di area sungai atau pun sawah disekitarnya. Dulu, abah memang paling tegas dengan peraturan sungai dan sawah. Ia tidak mengizinkan seluruh anak gadisnya bermain di sungai dan sawah tanpa pengawasannya. Katanya air sungai di kampung kami pada waktu itu kotor dan banyak mengandung kuman, abah takut anak gadisnya terkena penyakit kulit jika bermain disungai.
Padahal mengitari sungai bersama teman untuk mengumpulkan batu encrak adalah hal yang paling mengasyikan. Sama hal nya dengan mengitari pematang sawah untuk mencari bayi ikan ataupun tutut (keong sawah). Biasanya, saat ada kesempatan, gadis itu akan mengikuti temannya secara sembunyi-sembunyi. Bayi-bayi ikan yang berhasil ditangkap dikumpulkan dalam drum kaleng dihalaman rumah temannya, mereka selalu berharap bahwa ikan itu akan tumbuh besar sampai kemudian layak untuk digoreng (meski kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi). Sementara untuk keong-keong sawah yang berhasil dikumpulkan dalam jumlah banyak, salah seorang ibu dari teman selalu bersedia untuk membantu mengolahnya menjadi kudapan yang lezat. Berkali-kali lipat lezatnya karena dinikmati setelah berlelah-lelah mengelilingi lebih dari satu hektar sawah untuk mencarinya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berjalan-jalan di sawah, abah hanya tidak suka melihat putri-putrinya berkeliaran sambil bergerombol, ia lebih suka melihat anak perempuan bermain didalam rumah dengan manis.
Jika memang ingin pergi kesawah, diwaktu yang tepat, tentu abah akan bersedia untuk menemani. Misalnya saat bulan Ramadhan. Ngabuburit di sawah sambil ngurek (menangkap belut) adalah jurus jitu abah untuk membujuk putri kecilnya untuk tidak membatalkan puasa. Satu kenangan manis yang akan selalu tersimpan dengan baik: raut riang sepasang ayah dan anaknya yang berusia lima tahun.
Sang ayah menggendong anaknya dipunggung sambil menenteng tali yang mengekang belut-belut berukuran kecil, berjalan menyusuri pematang sawah saat rona jingga sang lembayung senja siap mengantarkan mentari menuju peraduan.
Dan sesampainya dirumah?
Wajah mamah akan selalu menjadi yang pertama teringat.
Senyum teduh yang memberikan kehangatan menjadi sebuah potret paling dicari saat rindu akan rumah, akan tempat kelahiran.


Comments
Post a Comment